Upacara di Sekolah - The Ball Story

Upacara di Sekolah - The Ball Story

Hari pertama sekolah adalah hari yang sangat menjemukan. Haru ingat saat SMP dulu. Pagi-pagi sekali, setiap anak baru diwajibkan berbaris di lapangan upacara untuk pengarahan dari Kepala Sekolah, kemudian disuruh latihan baris-berbaris oleh anggota OSIS. Terus, dapat pengarahan dari setiap wali kelas, terus ada game di kelas. Hari kedua dan ketiga juga begitu, cuma gak pake pengarahan dari Kepsek lagi.

Haru sudah berpakaian lengkap. Seragam baru putih-abu-abu melekat di tubuh kurus Haru. Ransel hitam menggantung di pundak kanannya. Haru berjalan mendekati gerbang sekolah. Anak-anak baru telah bersiap untuk berbaris di lapangan basket yang sekaligus dijadikan lapangan upacara. Tampak beberapa anggota OSIS mengatur barisan anak-anak baru. Dalam satu baris kelas, anak-anak cowok berbaris di sebelah kanan anak-anak cewek.

Barisan I-D adalah tempat Haru berbaris. Haru berada di tengah-tengah barisan. Haru melihat Sony berada di barisan kedua setelah barisan Haru. Itu berarti dia masuk kelas I-F. Kelas satu tahun ini terdiri dari enam kelas. Satu kelas yaitu, kelas I-A, adalah kelas unggulan yang merupakan tempat berkumpulnya anak-anak super pintar, super rajin, plus super kutu buku. Sementara kelas I-D seperti kelas-kelas yang lainnya, kelas bagi anak-anak yang cukup beruntung masuk SMU 4.

Read the rest of this entry »

Siang itu terasa panas sekali. Sebuah gang yang cukup panjang untuk dilalui, terlihat sepi dari aktivitas orang-orang. Yah, ini kan musim liburan anak-anak sekolah. Jadi, warga yang tinggal di komplek gang tersebut memilih berlibur ke luar kota atau wisata ke pantai yang masih dalam teritori kota ini.

Seorang pemuda, kira-kira berumur 16 tahun sedang berjalan sendirian di gang tersebut. Rambutnya lurus pendek dengan poni pendek menyamping dan beralis tebal. Anehnya, beda ama anak-anak lainnya, dia memiliki mata berwarna coklat. Badannya kurus serta berkulit sawo matang. Dia tampak bergumam atas cuaca yang sedang menimpanya kini.

“Gila, panas banget nih hari, untung aja Aku dah daftar dari tadi pagi.” Ungkap pemuda itu.

Dia Ronald Harussyan. Teman-temannya biasa memanggilnya, Haru. Haru baru saja selesai mendaftar sebuah sekolah menengah atas negeri. Dia masih terbayang suasana pendaftaran di sekolah barunya itu.

“Gimana nasib anak-anak yang baru daftar gini hari, panas, ngantri lagi!” Ujar Haru lagi.

Haru tiba di depan sebuah rumah berukuran memanjang kira-kira 14x5m. Rumah itu dipagari oleh beton setinggi 1.5m. Halamannya ditumbuhi dua pohon buah, jambu dan mangga. Terasnya dipenuhi oleh pot-pot bunga yang terawat dengan baik oleh pemiliknya. Haru mendekati pintu depan rumah itu. Dia mengetuk pintu.

“Assalamualaikum, Aku pulang.” Kata Haru.

“Wa’alaikumsalam wr.wb.” Jawab suara seorang perempuan dari dalam rumah.

Read the rest of this entry »

“Hai..! Kapan kita main sepakbola lagi, kawan?”

The Ball Story - The Beginning
The Ball Story – The Beginning

Ungkapan itu sangatlah sederhana. Ungkapan itu diucapkan oleh para penggila bola ketika bertemu. Mereka selalu merindukan untuk dapat saling berkejaran, berlari, menendang, dan mencoba memasukkan bola ke gawang. Mereka pun merasakan senang, gembira, tangis, dan sedih dalam permainan bernama sepakbola. Tentu dalam sepakbola ada yang menang dan ada yang kalah. Namun kedua hal itu hanyalah bagian dari permainan, para penggila bola hanya ingin menikmati sepakbola, yang mereka pikirkan hanyalah bertanding, bertanding dan bertanding.

“Aku memimpikan untuk bermain sepakbola di liga-liga Eropa!”

Sebelum kalimat itu terwujud, sebelum semuanyan berlarian mengejar impiannya, kisah ini akan memulai sebuah perjalanan. Perjalanan yang berujung pada kalimat itu.

Kisah ini bernama “The Ball Story”.

* note: kisah ini hanya fiktif belaka. kesamaan nama, tempat, dan kejadian tidak menandakan hal yang nyata.